Kisah Nabi Ismail Bersama Sang Ayah, Nabi Ibrahim AS

Kisah Ismail Putra Nabi Ibrahim AS—Allah SWT kembali akan mengutus seorang manusia pilihan di muka bumi. Seorang yang akan menjadi tauladan dalam berakhlak dan  melakukan beberapa praktek ibadah hingga saat ini. seorang spesial yang dibesarkan di kota suci Makkah dengan penuh perlindungan Allah SWT.

Utusan itu bernama Ismail, seorang utusan yang berasal dari keluarga nabi dan rasul sebelumnya. Ayahnya adalah Nabi Ibrahim AS yang pada masanya selamat dari api yang dikobarkan raja Namrud, ialah perusak patung-patung berhala di dalam balai pertemuan pada zaman raja Namrud yang keji.

Ismail berasal dari ibunya yang bernama Siti Hajar, yakni istri Nabi Ibrahim AS. Dimana Ismail juga memiliki seorang saudara tiri dari ayahnya. Kelak kakak tirinya itu juga menjadi seorang nabi, ialah Ishaq. Seorang anak lelaki yang berasal dari seorang ibu bernama Siti Sarah. Bahkan kabar tentang Ishaq telah diterima Nabi Ibrahim AS pada masa kaum Nabi Luth AS akan dihancurkan di negeri Sadum.

***
Siti Sarah adalah perempuan yang menikah dengan Nabi Ibrahim AS, mereka hidup bahagia dengan semua yang dimilikinya. Akan tetapi satu lagi tujuan yang belum tercapai, yakni memiliki keturunan. Telah lama rasanya mereka berdua menunggu Allah SWT untuk memberi mereka keturunan. Namun apalah daya, Allah SWT belum berkehendak.

Maka Siti Sarah meminta kepada Nabi Ibrahim AS untuk menikahi budak Siti Sarah yang bernama Siti Hajar. Pada suatu hari terdengarlah kabar bahwa Siti Hajar tengah mengandung calon anaknya Nabi Ibrahim AS. Maka dimulailah rasa yang tidak nyaman di hati Siti Sarah yang belum juga dikaruniai anak. Lazimnya perempuan lainnya, bahwa Siti Sarah merasa dikalahkan oleh Siti Hajar dalam mendapatkan keturunan.
Kisah Nabi Ismail Bersama Sang Ayah, Nabi Ibrahim AS

Pada suatu hari Allah SWT meminta kepada Nabi Ibrahim AS untuk mengikuti keinginan istrinya Siti Sarah. Yaitu untuk membawa pergi Siti Hajar dan anaknya jauh dari pandangan Siti Sarah. Maka Nabi Ibrahim AS mengikuti perintah Allah SWT.

Siti Hajar dan putranya Ismail mengikuti perintah suaminya Nabi Ibrahim AS untuk pergi ke suatu tempat yang jauh

Nabi Ibrahim AS hanya bertawakkal kepada Allah saat membawa serta istri dan putranya Ismail di atas punuk unta. Ya, mereka melewati padang pasir dan alam terbuka yang sangat panas dengan debu-debu yang berhamburan di atas padang pasir.

Tak ada tempat yang hendak dituju oleh Nabi Ibrahim AS, ia hanya terus berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan petunjuk tentang tempat yang akan ditunjukan kepadanya nanti. Mereka tetap berada di punduk unta untuk waktu yang cukup lama, hanya diselangi oleh ibadah dan istirahat di perjalanan.

Perjalanan yang jauh dan lama telah dilalui Nabi Ibrahim AS bersama istri dan putranya, Ismail. Kemudian berhentilah unta Nabi Ibrahim AS di sebuah tempat yang tiada sesuatupun kecuali batu dan gundukkan pasir. Di tempat itulah Nabi Ibrahim AS memutuskan sebagai tempat tinggal bagi Siti Hajar dan putranya, keputusan ini tidak luput atas wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Kemudian Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk meninggalkan istri dan putranya Ismail di sana.

Mengetahui hal itu maka Siti Hajar merasa sangat sedih, tidak mungkin baginya hidup di tempat seperti ini dengan keadaan ia tengah menyusui Ismail yang masih kecil.  Maka ia menangis dan meminta belas kasihan suaminya Nabi Ibrahim AS, bahkan ia sampai memegang baju suaminya supaya tidak ditinggalkan berdua bersama putranya.

Nabi Ibrahim AS menyampaikan jika sebenarnya ia tidak tega meninggalkan istri dan putra yang begitu dicintainya. Akan tetapi hal itu adalah perintah Allah SWT, dimana Dia yang meminta, maka Allah SWT yang akan melindungi mereka berdua dari segala bahaya dan kesulitan. Maka Siti Hajar ikhlas ditinggalkan suaminya Nabi Ibrahim AS yang kini kembali ke rumah Siti Sarah. Mereka  berdua bertawakkal kepada Allah SWT.

Tempat gersang itu kini dikenal sebagai kota Makkah, kiblatnya seluruh umat islam di seluruh dunia. Namun apa yang akan terjadi selanjutnya?

***

Nabi Ismail AS yang Patuh

Kota Makkah dimana Siti Hajar dan putranya Ismail tinggal adalah tempat yang tandus dan jauh dari keramaian. Sehingga hanya kesunyian yang menemani mereka setiap hari. Tidak ada pepohonan kecuali gunung berbatu dan pasir yang kering.

Pada suatu hari Siti Hajar sudah pergi menuju sebuah bukit, ia hendak mencari sesuatu untuk putranya Ismail dan juga dirinya. Ya, mereka harus bertahan hidup dan berusaha untuk tidak berputus asa dari pertolongan Allah SWT.

Kini ia sudah berada di bukit Shafa dan tidak menemukan apapun di sana, kemudian ia berlari lagi ke satu bukit yang lain ialah Marwah. Di sana juga ia tidak menemukan apapun.

Kemudian terdengar seruan dari bukit Shafa, maka Siti Hajar kembali ke Shafa. Ternyata itu hanya suara yang samar atau sekedar fatamorgana. Setidaknya telah tujuh kali ia berlari dari bukit Shafa dan Marwah. Kini Siti Hajar hendak kembali kepada sang putra Ismail yang sejak tadi ditinggal seorang diri.

Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Siti Hajar diajak malaikat Jibril, kemudian kakinya dipijakkan ke tanah beberapa kali. Lalu keluarlah air yang memancar dari dalam tanah. Ialah air zam-zam itu, air yang memiliki banyak khasiatnya kini.

Rasa bahagia dan penuh syukur dirasakan oleh Siti Hajar. Sehingga ia segera membawa putranya Ismail untuk segera minum air. Terlihatlah raut bahagia Ismail tatkala ia diusapkan air ke bibirnya oleh sang ibu, Siti Hajar.

***
Sang ayah, Nabi Ibrahim AS selalu berkunjung ke Makkah untuk bertemu dengan putra dan istri yang begitu dicintainya. Ya, ia datang dari Palestina menuju ke Makkah. Tak lain hanya untuk bisa bertemu melepas rindu, sebab mereka tidak dapat bertemu setiap saat.

Kini Ismail pun sudah beranjak remaja, ia tidak lagi seperti anak kecil lagi dan bahkan sudah jauh-jauh hari ia sudah mengetahui apa saja tentang Tuhan dan akhlak yang harus dimilikinya.

Ismail adalah pribadi yang rajin beribadah kepada Allah SWT, Tak pernah sekalipun ia menyusahkan ibunya. Sebab ia tahu bahwa mereka hanya tinggal berdua, sebab sang ayah berhak untuk tinggal di Palestina.

Pada masa itu Nabi Ibrahim AS mendapatkan sebuah mimpi yakni perintah dari Allah SWT, supaya menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Ketika mimpi itu datang untuk pertama kalinya, ia tidak langsung dapat percaya. Berkali-kali Nabi Ibrahim AS mengucapkan istighfar.

Kemudian mimpi itu kembali terulang setidaknya selama tiga hari tiga malam. Maka akhirnya Nabi Ibrahim AS menganggap jika mimpi itu benar-benar datang dari Allah SWT. Maka berangkatlah Nabi Ibrahim AS menuju Makkah dari Palestina. Bukan hanya sekedar mengunjungi mereka, namun akan melaksanakan perintah dari Allah SWT.

Tibalah Nabi Ibrahim AS di Makkah, kemudian tanpa sepengetahuan istrinya Siti Hajar tentulah Nabi Ibrahim AS mengajak Ismail untuk jalan-jalan ke bukit. Maka mereka berdua pergi dari rumah bersama-sama. Meskipun dalam hati Nabi Ibrahim AS masih ragu tentang cara untuk menjelaskannya.

***
Tibalah Nabi Ibrahim AS dan Ismail di satu bukit. Kemudian Nabi Ibrahim AS hanya diam dan Ismail khawatir dengan keadaan ayahnya. Ia bertanya apakah ada hal yang penting hingga mereka harus pergi sejauh ini?

Kemudian Nabi Ibrahim AS menatap wajah putranya dan menceritakan apa yang telah dialaminya, tentang perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail.

Mendengar hal itu maka Ismail hanya tersenyum sambil berkata, jika itu perintah yang datang dari Allah SWT. Maka Ismail akan menjadi orang-orang yang sabar karena bersedia melakukannya.

Mendengar hal itu maka Nabi Ibrahim AS langsung memeluk dan mencium pipi putranya. Kemudian berkata betapa bersyukurnya ia memperoleh putra yang taat kepada perintah Allah SWT.

Sebelumnya Ismail hanya memberikan 4 permintaan kepada ayahnya. Yakni ia ingin kaki dan tangannya diikat kuat supaya tidak banyak bergerak, kemudian meminta unyuk ditanggalkan pakaiannya supaya ibunya Siti Hajar tidak melihat darah. Lalu ia ingin supaya ayahnya menajamkan parangnya supaya Ismail tidak merasakan sakit yang terlalu lama.

Kemudian yang terakhir ia ingin disampaikan salam kepada ibunya, kemudian memberikan pakaiannya sebagai pemberian terakhir dari putranya sendiri.

Saat proses penyembelihan itu akan dilaksanakan, Nabi Ibrahim AS tak kuasa menahan tangis hingga tergenanglah air mata di matanya. Ketika parang itu sudah ditajamkan namun tak bisa digunakan untuk menyayat leher Ismail.

Sehingga Ismail berkata jika ayahnya merasa kasihan karena melihat wajahnya. Maka ia meminta untuk ditelungkupkan supaya mempermudah penyembelihan Ismail. Akan tetapi tetap saja parang itu tidak berfungsi.

Di tengah kebingungan mereka berdua akhirnya datanglah firman Allah SWT bahwa perintah ini datang sebagai ujian bagi mereka dan kini mereka telah lulus dalam ujiannya.

Kemudian Allah SWT meminta Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih seekor domba yang kini sudah ada di sampingnya.

Maka Nabi Ibrahim AS menyembelih hewan tersebut. Kemudian hari ini dikenallah dengan istilah berqurban pada hari raya idul adha.

***

Tentang Daun Pintu

Pada suatu hari Ismail telah menikah dan ia pun sudah diangkat menjadi seorang nabi. Kini ayahnya, Nabi Ibrahim AS sudah tua usianya namun tetap menyempatkan waktu untuk mengunjunginya sesekali.

Kemudian datanglah Nabi Ibrahim AS ke rumahnya, sedangkan sang istri tidak mengetahui bahwa tamu itu adalah mertuanya sendiri.

Nabi Ibrahim AS bertanya tentang keberadaan Nabi Ismail AS, maka sang istri malah menjawab dengan ketus jika suaminya sedang ada dalam berburu.

Kemudian Nabi Ibrahim AS bertanya adakah makanan atau minuman yang bisa disajikan. Maka sang istri Nabi Ismail AS menjawab jika tidak ada sedikitpun yang bisa disajikan.
Perlakuan istri Nabi Ismail AS itu tentu saja membuat hati Nabi Ibrahim AS tidak nyaman. Ia melihat jika menantunya itu tidak bersyukur dengan keadaannya dan tidak menerima apa yang diberikan suaminya sendiri.

Kemudian Nabi Ibrahim AS hendak pergi dan pamit kepada istri Nabi Ismail AS. Namun sebelumnya ia menitipkan pesan bahwa ia datang dan meminta kepadanya untuk mengganti daun pintunya. Lalu Nabi Ibrahim AS pergi dari rumah anaknya.

Tak berapa lama datanglah Nabi Ismail AS ke rumahnya dan ia mengetahui jika ada yang datang ke rumahnya. Ia pun bertanya apakah ada seorang lelaki tua datang ke rumah.

Kemudian sang istri menjawab iya, jika lelaki tua telah datang ke rumah Nabi Ismail AS. Sang istri juga menyampaikan jika suaminya harus mengganti daun pintu rumahnya.

Mendengar hal itu maka Nabi Ismail sangat terkejut, namun segera kembali sadar dan segera menyampaikan maksud ayahnya tersebut. Nabi Ismail AS menyampaikan jika lelaki tua itu adalah ayahnya, mengganti daun pintu berarti ia harus menceraikan istrinya. Maka Nabi Ismail AS memintanya untuk kembali kepada keluarganya sendiri.

Perangai yang tidak baik itulah yang membuat Nabi Ibrahim AS tidak menyukai sikap menantunya. Dimana ia memperlakukan tamu tanpa sedikitpun sikap ramah dan adanya kebaikan dari padanya.

***
Selesai

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah kepatuhan seseorang kepada Allah SWT dan orang tuanya adalah hal yang perlu ditiru oleh siapapun, supaya bisa mendapatkan kebahagiaan hidup.

Desiana P
CeritaRakyatPendek.com

Belum ada Komentar untuk "Kisah Nabi Ismail Bersama Sang Ayah, Nabi Ibrahim AS"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel