Kisah Nabi Musa Mukjizat Membelah Laut Merah untuk menyelamatkan kaumnya dari serangan Fir’aun

Kisah Nabi Musa. Kerajaan Fir’aun. Allah SWT tidak membiarkan kerusakan dan kesesatan abadi di muka bumi. Maka pada zaman Nabi dan Rasul masih diutus ke bumi, senantiasa Allah SWT menurunkan utusannya di berbagai belahan bumi.
Kisah Nabi Musa Mukjizat Membelah Laut Merah untuk menyelamatkan kaumnya dari serangan Fir’aun

Kini datanglah seorang utusan ke tengah-tengah satu kaum yang sudah sangat maju dalam hal duniawi, akan tetapi sangat tertinggal dalam hal ketauhidan kepada Allah SWT. Bahkan mereka tidak mengetahui Tuhan yang sebenarnya yakni Allah SWT, hal itu terjadi karena sejak dahulu mereka diajarkan tentang kepercayaan terhadap dewa-dewa secara turun temurun. Sehingga mereka hanya mengenali dewa-dewa sebagai tuhan yang mereka sembah selama ini.

***

Tersebutlah sebuah kerajaan yang terkenal dan sejahtera kala itu, dipimpin oleh seorang raja bernama Fir’aun. Kerajaan ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan bahkan bisa disebut modern pada masanya. Dimana telah terjadi kemajuan arsitektur seperti bangunan kerajaan dan makam-makam yang disimpan di dalam piramida yang tinggi dan luas. Hal itu sebagai penghormatan kepada mendiang raja-raja sebelumnya. Konon di dalam setiap piramida terdapat segala sesuatu barang dan benda yang pernah dipakai semasa hidup mendiang raja-raja. Seperti pakaian, perhiasan dan barang berharga lainnya.

Tak hanya itu, kerajaan Fir’aun adalah kerajaan yang memiliki kelimpahan rezeki atas izin Allah SWT. Banyaknya perhiasan dari logam mulia seperti emas dan permata yang Allah SWT mudahkan bagi mereka. Sehingga pihak kerajaan Fir’aun menjadi kerajaan terkenal pada masa itu.

Kerajaan Fir’aun dihuni oleh mayoritas orang-orang dari kaum Bani Israil, salah satu kaum yang terkenal di masa kehidupan para Nabi dan Rasul. Bahkan diabadikan dalam salah satu surah Al-Quran. Menjadi pertanda bahwa kita harus mengambil pelajaran terbaik dari kebaikan dan keburukan kaum tersebut.

***

Rakyat yang berada di lingkungan kerajaan Fir’aun memiliki kepercayaan terhadap para dewa-dewa sebagai Tuhannya. Kepercayaan itu adalah kepercayaan yang berasal dari nenek moyang mereka sejak dulu. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan bagi Allah SWT untuk mengembalikan kembali kepercayaan setiap umat manusia, menuju jalan yang lurus yakni Allah SWT.

Tak hanya soal kepercayaan terhadap dewa-dewa, Fir’aun dan rakyatnya juga terbiasa untuk menanyakan perihal segala sesuatu yang ghaib atau masa depan kepada para peramal. Peramal inilah dianggap sebagai bantuan terbaik bagi mereka yang sering menerka masa depannya sendiri. Hal ini juga sering dilakukan oleh Fir’aun ketika membutuhkan sebuah perkiraan tentang masa depan, baik dari mimpi atau media yang lainnya.

Seperti terjadi pada suatu malam, Fir’aun bermimpi bahwa mahkota yang selalu dipakainya hilang entah kemana. Kemudian dengan cepat, ia memanggil ahli ramalnya ke istana.
Terdapatlah sebuah keputusan jika ahli ramal itu menjelaskan, akan datang seseorang yang akan mengusik keamanan dan kedamaian istana. Ialah seorang anak laki-laki yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.

Sontak saja hal itu membuat raja Fir’aun terkejut dan membuat hatinya ketakutan. Ia tentu saja tidak ingin mengalami hal yang akan menyulitkan kehidupan di dalam kerajaannya sendiri. Akhirnya raja Fir’aun memerintahkan kepada semua prajuritnya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang baru saja dilahirkan setelah sang raja bermimpi buruk. Maka semua prajurit melakukan semua perintah sang raja, dimana setiap anak lelaki yang baru dilahirkan ke dunia diambil secara paksa atas nama perintah raja.
***

Nabi Musa dan Sungai Nil

Seorang ibu telah melahirkan seorang anak laki-laki, ia hidup bersamanya dan keberadaannya sama sekali tidak sampai diketahui oleh pihak kerajaan istana Fir’aun. Semua itu berkat kuasa dan pertolongan Allah SWT, sebab sang pencipta telah memiliki maksud yang lain dibaliknya.

Setelah sang bayi berumur kurang lebih tiga bulan, maka Allah SWT memberikan petunjuk kepada sang ibu untuk menghanyutkan bayinya ke sungai Nil. Ya, sungai paling terkenal di kerajaan Fir’aun dan bahkan seluruh negeri pun telah mengetahuinya. Sang ibu akhirnya mengikuti perintah Allah SWT, ia meyakini bahwa selalu ada rencana yang terbaik ketika sang pencipta meminta hambanya untuk melakukan suatu perintah.

Ibu sang bayi tersebut menghanyutkan sang putra ke aliran sungai Nil yang tenang. Kemudian ia melihat keranjang yang membawa bayinya terus melaju perlahan. Sang ibu hanya berharap supaya anak lelakinya selalu diberikan keselamatan oleh sang pencipta.

***

Aliran sungai Nil membawa sang bayi ke daerah kerajaan Fir’aun, bahkan sang bayi kini sedang berada di area pemandian para wanita-wanita kerajaan, termasuk istri Fir’aun yang bernama Asiah.
Betapa terkejutnya istri Fir’aun ketika melihat seorang bayi berada di dalam keranjang yang dihanyutkan. Apalagi ia tidak memiliki anak laki-laki, kemudian ia segera mengangkat sang bayi yang damai dalam tidurnya sangat lelap. Istri Fir’aun bersama wanita lainnya hendak menuju ke dalam istana untuk menunjukkan kepada suaminya, raja Fir’aun. Ia ingin mengdopsi anak lelaki itu menjadi anak angkatnya sendiri.

Tibalah di dalam istana dan segera istri Fir’aun mengadu kepada raja Fir’aun tentang bayi laki-laki yang ditemukannya di sungai Nil. Mendengar nama lelaki, raja Fir’aun hendak meminta kepada prajuritnya untuk membunuh bayi tersebut. Namun istri Fir’aun berhasil membujuk suaminya untuk menggagalkan keinginannya.

Bayi laki-laki itu adalah Musa, seorang manusia istimewa yang kelak akan menjadi seorang utusan Allah SWT. Tidak ada yang bisa memungkiri kekuasaan Allah SWT, dimana atas kuasa-Nya mendekatkan kecelakaan bagi raja Fir’aun tepat di dalam istananya sendiri.

Para peramal, istri Fir’aun dan bahkan raja Fir’aun sendiri tidak mengetahui masa depan anak lelaki itu, mereka hanya menganggap jika bayi laki-laki itu akan tumbuh dengan baik dan kuat. Mungkin saja pula akan diberikan kekuasaan di dalam kerajaan Fir’aun kelak.

Keanehan yang pertama kali muncul adalah ketika bayi laki-laki itu ingin menyusui, dimana tidak ada yang bisa membuatnya tenang kepada siapapun bahkan kepada ibu angkatnya sendiri. Maka atas izin Allah SWT bayi itu menjadi tenang berkat bantuan seorang ibu yang datang ke istana. Perempuan itu tak lain adalah ibu si bayi laki-laki, hanya saja tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.

Bayi laki-laki itu perlahan tumbuh menjadi anak yang hidup di lingkungan istana raja Fir’aun. Akan tetapi sesekali ia juga akan pergi ke tengah kota untuk sekedar bertemu dengan para rakyat kerajaan.
Setelah Musa tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa, maka iapun dijadikan utusan Allah SWT untuk bisa melepaskan rakyat yang ditindas oleh ayah angkatnya, raja Fir’aun. Ya, raja Fir’aun ternyata sangat menindas rakyatnya sendiri, hal itu semakin nyata dirasakan oleh golongan yang berasal dari golongan rakyat biasa dan miskin.

Perlahan namun pasti, Nabi Musa AS telah menyebarkan ajarannya ke beberapa titik di sekitar istana. Ya, untuk sementara Nabi Musa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Hal itu diperlukan dan telah sesuai dengan apa yang dierintahkan oleh Allah SWT kepadanya melalui wahyu yang diterima. Ya, beberapa kali Nabi Musa AS mendapatkan wahyu yang disampaikan malaikat jibril kepadanya sebagai petunjuk   dakwahnya.

Akhirnya tibalah saat dimana Nabi Musa AS secara terang-terangan menyampaikan ajarannya kepada semua rakyat kerajaan, kemudian sebagian orang percaya akan ajaran yang dibawanya. Namun tidak sedikit pula yang tetap menentang dan tidak percaya.

Kabar itu dengan segera sampai kepada raja Fir’aun, tentu saja hal tersebut membuatnya marah dan segera meminta utusannya untuk membawa Nabi Musa AS ke hadapannya.

Apa yang akan dilakukan oleh seorang raja Fir’aun kepada seorang utusan Allah SWT?
Ya, sedikitpun Nabi Musa AS tidak menruh rasa takut, sebab rasa itu hanya pantas dimiliki ketika takut ditinggalkan Allah SWT, Tuhan satu-satunya bagi seluruh makhluk.

***

Mukjizat Nabi Musa


Akhirnya Nabi Musa AS telah berada di hadapan ayah angkatnya, raja Fir’aun. Tanpa sedikitpun rasa takut dan ragu, Nabi Musa AS menyampaikan apa yang sudah Allah SWT perintahkan kepada semua manusia, yakni kembali menyembah Allah SWT dan menjauhkan diri dari perbuatan yang ingkar. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak diterima oleh raja Fir’aun.
Raja Fir’aun merasa jika ia setara dengan Tuhan Nabi Musa AS, dimana ia mampu menaklukkan banyak peperangan. Membuat bangunan yang tinggi menjulang ke langit dan bisa memiliki umur yang panjang. Sehingga secara terang-terangan, raja Fir’aun menantang Nabi Musa AS untuk membuktikan ucapan anak angkatnya sendiri.

Raja Fir’aun meminta kepada semua tukang sihir dan para dukun untuk menunjukkan kekuatannya. Dimana mereka mampu membuat ular-ular kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Akan tetapi atas izin Allah SWT, Nabi Musa AS juga dapat melakukannya. Ya, ia melemparkan tongkat miliknya dan menjadi seekor ular yang sangat besar kemudian memakan habis ular-ular sihir milik para penyihir raja Fir’aun.

Melihat kenyataan itu ternyata tidak membuat raja Fir’aun merasa kalah, bahkan ia semakin menantang Tuhan Nabi Musa AS. Akan tetapi berkali-kali kemenangan milik Nabi Musa AS dan raja Fir’aun selalu mengalami kekalahan.

Akhirnya karena amarah yang memuncak, maka raja Fir’aun meminta prajurit dan pasukan berkuda untuk mengejar Nabi Musa AS dan para pengikutnya. Ya, mereka akan membunuh Nabi Musa AS dan para pengikutnya.

Nabi Musa AS tidak berjuang sendiri, sebab Allah SWT bersamanya. Tak sekalipun pasukan Fir’aun dapat mengejar rombongan nabi Musa AS, meskipun di dalam rombongannya terdapat banyak orang tua dan orang sakit. Mereka terus berlari untuk menyelamatkan diri dari kejaran raja Fir’aun dan pengikutnya.

Tibalah Nabi Musa AS dan pengikutnya di depan sebuah laut yang terbentang luas. Tak ada lagi jalan yang bisa mereka lalui untuk melarikan diri. Maka dengan cepat Nabi Musa AS berdo’a kepada Allah SWT supaya diberikan jalan keluar untuk menyelamatkan diri.

Akhirnya Nabi Musa Menghentakkan tongkat miliknya, seketika air laut bergemuruh dan ombak juga tak lagi menderu. Atas kuasa Allah SWT, maka secara perlahan laut menjadi terbelah dan semakin besar membentuk sebuah jalan yang panjang sampai ke daratan yang ada di ujung pandangnya.
Nabi Musa AS meminta kepada semua pengikutnya untuk segera berjalan dan melanjutkan perjalanan, sebab pasukan Fir’aun pasti masih mengejar mereka. Maka semua pengikut Nabi Musa AS segera melintasi lautan yang terbelah sembari terus berdoa meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT. Hingga akhirnya sampailah semua orang di daratan yang baru dan mereka sangat bersyukur kepada Allah SWT.

Terlihat di ujung pandang pasukan Fir’aun juga hendak melintasi lautan. Sempat juga mereka merasa heran dengan laut yang bisa terbelah menjadi dua bagian. Maka tanpa banyak lagi alasan, raja Fir’aun bersama pasukannya segera melintasi lautan, tentu saja mereka ingin mengejar Nabi Musa AS dan pengikutnya yang sudah sampai terlebih dahulu ke daratan.

Ketika raja Fir’aun bersama bala tentaranya berada di tengah-tengah perjalanan. Maka atas izin Allah SWT, air laut kembali menyatu seperti sedia kala. Semua prajurit Fir’aun tentu saja ketakutan. Bahkan sebagian menjerit-jerit meminta tolong. Namun apalah daya, tak satupun yang dapat menolong mereka. Begitupun Allah SWT tidak memberi kuasa kepada Nabi Musa AS untuk menolong ayah angkatnya sendiri, sebab ia telah berlaku dzalim dan berlaku ingkar terhadap kuasa Allah SWT.

***

Akhirnya Nabi Musa AS bersama kaumnya mencari tempat baru dan membangun kehidupan baru di tempat yang lebih damai, dimana Allah SWT mencurahkan kasih dan sayangnya di antara makhluk-makhluknya yang beriman dan taat. Kemudian diceritakanlah jika laut yang menjadi saksi bisu tenggelamnya raja Fir’aun dan bala tentaranya ketika mengejar Nabi Musa AS disebut dengan laut merah. Sampai saat ini muslim di seluruh dunia mengetahui hal tersebut, tentu saja supaya dapat diambil pelajaran bagi kehidupan yang lebih baik.

***
Selesai

Pesan yang dapat diambil dari kisah ini adalah supaya kita dapat mengambil pelajaran atas apa yang diberikan kepada raja Fir’aun dan bala tentaranya. Ya, sebuah balasan bagi mereka yang berbuat ingkar dari Allah SWT.

Desiana P

Belum ada Komentar untuk "Kisah Nabi Musa Mukjizat Membelah Laut Merah untuk menyelamatkan kaumnya dari serangan Fir’aun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel